Kontroversi
Pekan Kondom Nasional
Peringatan
hari AIDS sedunia yang jatuh pada 1 Desember diperingati di berbagai daerah di
Indonesia dengan berbagai cara. Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN)
bersama DKT Indonesia dan Kementerian Kesehatan Nasional menggelar Pekan Kondom
Nasional (PKN) pada 1-7 Desember. Kegiatan tersebut memunculkan pro kontra di
tengah masyarakat.
Pembagian
kondom gratis bertajuk Pekan Kondom Nasional
digelar dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia. Program Pekan Kondom Nasional (PKN) bukan menjadi
program Kemenkes tetapi swasta yaitu DKT dan Komisi Penanggulangan AIDS
Nasional (KPAN). Dalam hal ini perayaan
PKN sudah menjadi kegiatan yang rutin dilakukan sejak 2007. Program PKN dilaksanakan pada tanggal 1-7 Desember 2013, yakni membagi-bagikan
kondom gratis kepada para pemuda yang belum menikah. Selain untuk memberikan edukasi, program
kegiatan ini juga akan memberikan kondom secara gratis pada anak muda. Kondom
adalah alat kontrasepsi atau alat untuk mencegah kehamilan atau penularan penyakit
kelamin pada saat berhubungan seksual.
Program PKN ini
menghadirkan pro-kontra dalam masyarakat.
Misalnya MUI, yang berpendapat bahwa program ini meresahkan dan
menyakiti hati umat Islam karena tidak sesuai dengan tuntunan Islam. MUI menyebut program tersebut justru menjurus
pada pembolehan melakukan perzinahan.
Menurut Tengku (Wakasekjen MUI), program membagi-bagikan kondom adalah
niat terselubung yakni membolehkan pemuda melakukan perzinahan. “Bagaimana
tidak? Orang yang tidak beristeri diberi kondom. Bukankah ini sama dengan
memberikan alat untuk berzina?”.
Sementara itu
menurut Menkes, kondom bukanlah barang terlarang sehingga tidak masalah jika
ada yang membagi-bagi itu secara gratis. "Kondom bukan barang terlarang
seperti narkotika. Jadi tidak perlu risau, jika ada yang bagi-bagi
kondom," ujar Nafsiah dalam konferensi pers Hari AIDS Sedunia di Jakarta,
Jumat 29 November. Dia menambahkan pembagian kondom sudah ada
sejak tahun 1970-an. Lagi pula tujuannya bukan untuk menganjurkan seks bebas
melainkan mencegah penularan HIV/AIDS.
Mengenal penyebab dan dampak HIV/
AIDS
Para ilmuwan
berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara.
Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS
diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia. Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25
juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5
Juni 1981. Dengan
demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam
sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta
jiwa pada tahun 2005 saja, dan
lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak.
HIV (Humman Immunodeficiency Virus) yaitu virus yang
menyerang system kekebalan tubuh manusia. Sistem kekebalan dianggap menurun
ketika sistem tersebut tidak dapat lagi menjalankan fungsinya memerangi infeksi
dan penyakit- penyakit. Orang yang kekebalan tubuhnya menurun (Immunodeficient)
menjadi lebih rentan terhadap berbagai infeksi.
AIDS (Acquired
Immuno Deficiency Syndrome) adalah suatu sindrom atau kumpulan gejala
penyakit yang timbul akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh. AIDS bukan penyakit
turunan, akan tetapi suatu penyakit yang didapat atau ditularkan dari satu
orang ke orang lainnya. Infeksi HIV telah ditahbiskan sebagai penyebab AIDS.
Tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya berbagai infeksi tertentu merupakan
indikator bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS. AIDS merupakan fase
terminal dari infeksi HIV. Penderita HIV
positif adalah seseorang yang telah tertular HIV, dapat menularkan penyakitnya
walaupun nampak sehat dan tidak menunjukkan gejala.
Penularan HIV akan terjadi bila terjadi kontak atau
percampuran dengan cairan tubuh yang mengandung HIV antara lain melalui :
Hukuman sosial bagi penderita
HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit
mematikan lainnya. Kadang-kadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan
kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang
yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).
A : berhubungan hanya dengan pasangan
B : tidak berhubungan seksual sampai menikah
C : memakai kondom
Abstinence, be faithful, use a Condom consists of three components:
- Abstinence: The ABC approach encourages young adults to delay
"sexual debut" (age of first sexual intercourse), as used by Uganda, or
to use abstinence until marriage, the most effective way to avoid HIV
infection, as advocated as the ideal by Christianity and Islam. The
program develops skills for practicing abstinence and encourages
participants to adopt social norms that support abstinence.
- Be Faithful: In addition to abstinence, the ABC approach encourages participants to eliminate casual or other concurrent sex partners and to practice fidelity within their marriages and other sexual relationships. This reduces exposure to HIV. In Uganda between 1989–1995, President Museveni reported a 20% decline in casual sex partners, and an 11% decline in reported cases of HIV.
- Use a Condom: The final component to the ABC approach is "correct and consistent condom use." While understanding the benefits of abstinence, participants are instructed how to apply and use a condom. This is an example of risk reduction during cases when risk elimination is not practiced. Students are also taught that condoms do not protect against all forms of sexually transmitted diseases.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar