Kamis, 05 Desember 2013

Pro-kotra Pekan Kondom Nasional KPK 5-12-2013


Kontroversi Pekan Kondom Nasional
Peringatan hari AIDS sedunia yang jatuh pada 1 Desember diperingati di berbagai daerah di Indonesia dengan berbagai cara. Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) bersama DKT Indonesia dan Kementerian Kesehatan Nasional menggelar Pekan Kondom Nasional (PKN) pada 1-7 Desember. Kegiatan tersebut memunculkan pro kontra di tengah masyarakat.
Pembagian kondom gratis bertajuk Pekan Kondom Nasional   digelar dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia.   Program  Pekan Kondom Nasional (PKN) bukan menjadi program Kemenkes tetapi swasta yaitu DKT dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN).  Dalam hal ini perayaan PKN sudah menjadi kegiatan yang rutin dilakukan sejak 2007. Program   PKN dilaksanakan pada tanggal  1-7 Desember 2013, yakni membagi-bagikan kondom gratis kepada para pemuda yang belum menikah.  Selain untuk memberikan edukasi, program kegiatan ini juga akan memberikan kondom secara gratis pada anak muda. Kondom adalah alat kontrasepsi atau alat untuk mencegah kehamilan atau penularan penyakit kelamin pada saat berhubungan  seksual.
Program PKN ini menghadirkan pro-kontra dalam masyarakat.  Misalnya MUI, yang berpendapat bahwa program ini meresahkan dan menyakiti hati umat Islam karena tidak sesuai dengan tuntunan Islam.  MUI menyebut program tersebut justru menjurus pada pembolehan melakukan perzinahan.  Menurut Tengku (Wakasekjen MUI), program membagi-bagikan kondom adalah niat terselubung yakni membolehkan pemuda melakukan perzinahan. “Bagaimana tidak? Orang yang tidak beristeri diberi kondom. Bukankah ini sama dengan memberikan alat untuk berzina?”.
Sementara itu menurut Menkes, kondom bukanlah barang terlarang sehingga tidak masalah jika ada yang membagi-bagi itu secara gratis. "Kondom bukan barang terlarang seperti narkotika. Jadi tidak perlu risau, jika ada yang bagi-bagi kondom," ujar Nafsiah dalam konferensi pers Hari AIDS Sedunia di Jakarta, Jumat 29 November.  Dia menambahkan pembagian kondom sudah ada sejak tahun 1970-an. Lagi pula tujuannya bukan untuk menganjurkan seks bebas melainkan mencegah penularan HIV/AIDS.  

Upaya  mencegah meluasnya pengidap AIDS merupakan upaya mulia, namun untuk mencegah agar penularan yang salah satunya melalui hubungan seksual itu bukan dengan membagi-bagikan kondom secara gratis yang sangat mungkin disalahgunakan untuk perzinahan.  Edukasi tentang HIV/AIDS perlu dilakukan terhadap  masyarakat dengan cara yang tepat agar mengatahui bahaya penyakit HIV/ AIDS dan penularannya, khususnya generasi  muda, Selain itu masyarakat luas juga harus  memiliki kepedulian terhadap pernderita HIV/ AIDS bukan mengucilkannya.


Mengenal penyebab dan dampak HIV/ AIDS
Para ilmuwan berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara. Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia.  Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak.

HIV (Humman Immunodeficiency Virus) yaitu virus yang menyerang system kekebalan tubuh manusia. Sistem kekebalan dianggap menurun ketika sistem tersebut tidak dapat lagi menjalankan fungsinya memerangi infeksi dan penyakit- penyakit. Orang yang kekebalan tubuhnya menurun (Immunodeficient) menjadi lebih rentan terhadap berbagai infeksi. 
AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah suatu sindrom atau kumpulan gejala penyakit yang timbul akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh. AIDS bukan penyakit turunan, akan tetapi suatu penyakit yang didapat atau ditularkan dari satu orang ke orang lainnya. Infeksi HIV telah ditahbiskan sebagai penyebab AIDS. Tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya berbagai infeksi tertentu merupakan indikator bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS. AIDS merupakan fase terminal dari infeksi HIV.  Penderita HIV positif adalah seseorang yang telah tertular HIV, dapat menularkan penyakitnya walaupun nampak sehat dan tidak menunjukkan gejala.

Penularan HIV akan terjadi bila terjadi kontak atau percampuran dengan cairan tubuh yang mengandung HIV antara lain melalui :
*       Berhubungan seksual dengan orang dengan HIV positif, baik secara heteroseksual (lain jenis) maupun homoseksual (sesama jenis) tanpa menggunakan kondom. 
*       Melalui transfusi darah dan transplantasi organ yang tercemar HIV. 
*        Melalui alat/jarum suntik atau alat tusuk lainnya yang tercemar HIV seperti alat tindik, tattoo, akupuntur dan lain-lain. 
*        Pemindahan dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya saat persalinan atau penularan lewat air susu ibu ke bayinya.

Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Kadang-kadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).

 Program ABC (Abstinence, be faithful, use a Condom) Efektif mencegah penularan HIV/ AIDS
A : berhubungan hanya dengan pasangan
B : tidak berhubungan seksual sampai menikah
C : memakai kondom

Abstinence, be faithful, use a Condom consists of three components:
  • Abstinence: The ABC approach encourages young adults to delay "sexual debut" (age of first sexual intercourse), as used by Uganda, or to use abstinence until marriage, the most effective way to avoid HIV infection, as advocated as the ideal by Christianity and Islam. The program develops skills for practicing abstinence and encourages participants to adopt social norms that support abstinence.
  • Be Faithful: In addition to abstinence, the ABC approach encourages participants to eliminate casual or other concurrent sex partners and to practice fidelity within their marriages and other sexual relationships. This reduces exposure to HIV. In Uganda between 1989–1995, President Museveni reported a 20% decline in casual sex partners, and an 11% decline in reported cases of HIV.
  • Use a Condom: The final component to the ABC approach is "correct and consistent condom use." While understanding the benefits of abstinence, participants are instructed how to apply and use a condom. This is an example of risk reduction during cases when risk elimination is not practiced. Students are also taught that condoms do not protect against all forms of sexually transmitted diseases.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar